Unhappiness is selfless. Sepertinya ungkapan itu betul adanya. Rasa tak bahagia mengundang empati. Hati biasanya tersentuh bila ada sahabat yang merasa tak bahagia. Kita ingin melakukan apa saja agar si teman bisa tertawa lagi. Waktu dicurahkan untuk menemani dan mendengarkan kepedihan dan kesedihan.
Pernahkah kita punya sahabat seperti ini?
Setelah tahun ke tahun berganti, hidup teman ini lebih banyak rasa tak bahagianya dari pada saat-saat bahagianya. Akhirnya aku menyadari, setiap saat melewati waktu bersamanya enerjiku turut menjadi negatif dan berubah menjadi kesedihan. Begitu banyak waktu telah dilewatkan untuk menemaninya, dan kelelahan menyengat sesudahnya.
Sahabat ini tak kujumpai lagi tahun-tahun belakangan ini. Persahabatan itu tidak hangat lagi, sama seperti sahabat yang sangat jarang merasa bahagia, aku pun merasa tak bahagia lagi bersamanya.
Apakah bahagia itu membuat seseorang menjadi egois? Is happiness selfish?
Justru kebalikannya. Unhappiness is selfish, karena seluruh waktu yang dipikirkan adalah kesusahan, keresahan, ketidak beruntungan, kemalangan diri sendiri. Hati dan otak berkecamuk dengan pengalaman sedih diri sendiri.
Untuk menjadi bahagia bukan sesuatu yang otomatis didapatkan. Ada memang orang yang dilahirkan dengan penuh senyum dan hati yang terbuka. Namun tetap diperlukan sebuah upaya untuk menjadi bahagia. Upaya setiap hari untuk menjadi makhluk yang bahagia, dan dengan merasa bahagia maka teman-teman disekitar pun merasa bahagia.
Untuk mampu melakukan ini, seseorang bukan hanya memikirkan dirinya sendiri tetapi orang-orang yang dicintai disekitarnya. Setiap ungkapan setiap senyuman diberikan agar orang-orang di sekitarnya lebih bahagia bersamanya.
Mungkin kita kurang memberikan apresiasi buat teman-teman yang setiap hari menebarkan tawa dan rasa bahagia. We sometimes take it for granted. I think so.
